Minggu, 01 Januari 2017

Rahasia Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Dalam 1 Bulan

Ini adalah catatan Dr Syaltout, dosen Universitas Indonesia dalam sekolah Ansos yang pernah diadakan pada tahun 1997 silam. Tentang dakwah Romo Mangun dan KH Abdurrahman Wahid dalam merancang startegi masing-masing melakukan misionarisasi, baik Kristen maupun Islam.



Untuk memberikan keterangan kepada hadirin, Romo Mangun mengutip ayat Qur’an Ali Imran ayat 110 dan menginterpretasinya. Ini bunyi ayat tersebut:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)

Ayat di atas biasanya dipahami cukup chauvinis (kesetiaan ekstrim tanpa mau melihat pandangan alternatif lain) di sebagian besar Islam.

Dalam kesempatan tersebut, Romo Mangun memberikan pengantar tentang pola “dakwah” (baca: advokasi) nya yang terinspirasi dari Ali Imran 110 itu. Di situ ada alur logika yang imanen dan ilahiyah tentang bagaimana melakukan advokasi yang baik. Berikut ada 4 tahapan dakwah yang diulas Romo Mangun dari ayat di atas:
 
1). Kuntum khoira ummah (kamu adalah ummat terbaik). Yakni, umat harus disapa pertama kali dengan mentalitas superior (percaya diri), bukan inferior. Inferiority complex itu bahaya. Dendam, butuh pengakuan, butuh pujian itu tidak sehat.

Dalam tradisi Katolik, sapaan awal “mentalitas superior” ini dimulai dengan kalimat “saudara-saudaraku terkasih dosa kalian sudah ditebus Tuhan Yesus”. Perasaan bebas dari dosa dan salah bisa menciptakan mentalitas superior itu.

2). Ta’muruna bil ma’ruf  (mengajak berbuat baik). Dan logisnya, sebelum mengajak tentu harus berbuat baik dulu. Saat umat lapar, kita beri makan. Kita buat mereka kenyang. Saat umat butuh tempat bernaung, kita buatkan tempat itu. Kita cukupi kebutuhan mereka. Kita jadikan diri kita sebagai teladan bagi umat. Dengan begitu, umat jadi ikut, mau diajak dan kemudian juga mengajak yang lain untuk berbuat kebaikan.

3). Tanhauna ‘anil munkar (cegah kerusakan atau perbuatan yang tidak pinter, tidak bener, dan tidak pener), yang logisnya tentu kita kasih teladan dulu bahwa kita tidak berbuat buruk, tidak berbuat yang tidak pinter, tidak bener dan tidak pener. Dengan demikian, sistem dan ekosistem yang sudah baik (karena sudah melewati tahap 1 dan 2 bisa terjaga dari pengaruh yang buruk.

4). Yu’minuna billah (beriman kepada Allah, percaya kepada Tuhan Yang Maha Kasih – atau dalam bahasa Romo Mangun “tahap penginjilan” – percaya pada kristus).

Menurut Romo Mangun, banyak dakwah atau advokasi gagal karena nalarnya loncat. Kalau buru-buru masuk tahap 4, tentu yang ada ialah perang. Jika masuk tahapan ke-3, tanpa melalui tahapan ke-1 dan ke-2, tentu yang terjadi adalah kekerasan.

Ini adalah kritik terhadap gerakan-gerakan dakwah “nahi munkar” yang menumbuhkan bibit kekersaan. Termasuk kritik terhadap saran almarhum KH. Zaunuddin MZ yang pernah melarang dakwah terhadap orang beragama, melarang umat Islam yang miskin diberi Indomie, beras dan kebutuhan harian lainnya.

Yang menarik adalah tahapan dakwah antara Romo Mangun dan Gus Dur. Mereka ini sudah pada tahapan dakwah dengan dialog dan bercanda lintas iman. Akhirnya, semua bisa disampaikan secara baik-baik.

Gus Dur bertanya kepada Romo Mangun, dengan cara menerapkan Qur’an seperti itu (4 tahapan dakwah dari surat Ali Imron 110), Romo berhasil menginjilkan berapa orang?

Romo Mangun menjawab, “sekitar 30-50 orang per bulan, mereka umat yang miskin, yang teraniaya, lapar, tinggal di bantaran kali, dan hampir terlupakan,” katanya.

Mendengar jawaban tersebut, beberapa kawan NU ada yang sempat emosi. Mereka kemudian bertanya kepada Gus Dur terkait “kristenisasi” Romo Mangun itu.

“Alhamdulillah mereka masih pindah agama, daripada mereka pindah ke alam baka,” jawab Gus Dur selengekan. Hadirin tertawa tapi tetap masih resah.

Saat semua grundel, Gus Dur melanjutkan, “saya senang ayat Qur’an dipakai Romo, daripada nganggur. Ya, saya mirip Romo juga sebenarnya. Saya bisa mengislamkan 30-50 bahkan pernah 100 orang dalam sebulan. Tapiii… itu Romo semua!”.

Semua hadirin tertawa, Romo Mangun dan Gus Dur berpelukan hangat. Ah, jadi kangen Gus Dur yang selalu punya cara unik menyelesaikan masalah tanpa basi-basi.

Sumber: dutaislam.com


0 Komentar Rahasia Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Dalam 1 Bulan

Posting Komentar

Back To Top